About

Tampilkan postingan dengan label ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ragam. Tampilkan semua postingan

Kerajinan Limbah : Ban Bekas Diolah Menjadi Berbagai Perlengkapan



Kerajinan Limbah : Ban Bekas Diolah Menjadi Berbagai Perlengkapan

Desa Kabunan, Dukuh Waru, Tegal, Jawa Tengah, dikenal sebagai desa perajin limbah ban bekas.
Sedikitnya terdapat 200 perajin ban bekas di desa ini. Tidak heran jika dihampir setiap rumah di desa ini terdapat tumpukan limbah ban bekas.

Ditangan warga Desa Kabunan, limbah ban yang sudah tidak ada harganya ini, diolah menjadi berbagai macam barang yang bernilai jual cukup tinggi. Mulai dari tali timba, pot tanaman, tempat sampah hingga seperangkat meja kursi.

Harga pot tanaman dan tempat sampah, berkisar antara 10 ribu hingga 25 ribu rupiah, per buah. Sedangkan harga tali timba panjang 10 meter mencapai 30 ribu rupiah.

Sementara harga satu set meja kursi hias mencapai 300 ribu rupiah.  


Yang menarik, untuk membuat barang-barang ini, para perajin tidak menggunakan peralatan mesin. Semua proses produksi dikerjakan secara manual, yakni menggunakan pisau atau celurit untuk mengiris, palu dan landasan kayu.

Menurut salah seorang perajin, Bakir, usaha pengolahan limbah ban bekas ini sebagian besar merupakan usaha turun temurun.

Dahulu, warga hanya mengerjakan pesanan karet untuk jok mobil. Kemudian berkembang pemikiran membuat barang-barang rumah tangga.


Limbah ban bekas dibawa para pemasok dari luar kota seperti Surabaya, Bandung dan Jakarta. Harganya berkisar antara 5 ribu rupiah hingga 30 ribu rupiah, per buah.

Prospek usaha kerajinan ban bekas ini cukup bagus. Selain dari Tegal, pesanan juga kerap datang dari luar daerah. Sayangnya, para perajin merasa sulit berkembang karena keterbatasan modal

Sumber  :  indosiar.com 

Kerajinan Miniatur Bunga dan Bros dari Ulat


Ulat sutra identik dengan benang yang disulam menjadi kain sutera dengan harga mahal. Tapi siapa sangka, rumah ulat sutra atau kepompong juga dapat menghasilkan uang bernilai jutaan rupiah. Di tangan Ibu Tien, berlokasi di Jalan Ciliwung, Surabaya, kepompong ulat sutra diubahnya
menjadi perhiasan aneka bros, tempat tisu juga aneka macam bunga.
untuk mendapatkan kepompong tidak terlalu sulit karena ibu tien, punya tenaga pengepul dari yogyakarta. yakni kepompong ulat sutra murbei yang dibudidayakan maupun yang hidup di alam bebas. berawal dari kesukaanya membuat barang kerajinan, ibu tien mulai tertarik dengan kepompong. karena ulat sutra hanya dimanfaatkan benangnya saja, sedangkan kepompongnya dibuang dan menjadi sampah.
Untuk membuat kerajinan kepompong sebenarnya, cukup sederhana. Pertama kepompong kering dibersihkan, dan di rendam dengan air panas selama lima belas menit, lalu kepompong ditiriskan, dan diberi warna. Kepompong yang sudah kering siap di rangkai sesuai keinginan.
Barang kerajinan bernilai seni ini dipasarkan dengan harga dikisaran puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Kerajinan dari kepompong ulat buatan Ibu Tien ini, juga di pasarkan ke manca negara, yakni Malaysia, Spanyol, dan Amerika. Ke depannya, Ibu Tien akan berusaha membuat kerajinan dari bahan kepompong ulat ulat yang lain

Sumber  : indosiar.com